Wakaf SMP Islam Ibnu Umar

Bingung Puasa Sunnah Apa

 

Bingung Puasa Sunnah Apa

Pertanyaan:

Saya niat besok pagi akan mengerjakan puasa sunnah. Tetapi saya bingung, besok hari Selasa, dan bukan masuk ayyamul bid, lalu saya niat puasa apa? Setahu saya, puasa sunnah itu Senin-Kamis, Ayyamul Bid, dan puasa Dawud. Mohon penjelasanya ustadz, baarakallahu fiikum.

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله.

Niatkan puasa mutlaq, atau lebih afdhol lagi jika anda mampu, bisa berpuasa di hari kamisnya, sabtunya dan seterusnya (diselang sehari berpuasa sehari berbuka, yaitu puasa Dawud).

berkata Fadhilatus Syaikh Shalih bin Utsaimin Rahimahullahu Ta’aala di dalam kitabnya as-Syarhul Mumti’,

ينقسم في الواقع إلى قسمين: تطوع مطلق وتطوع مقيد.
والمقيد أوكد من التطوع المطلق، كالصلاة أيضاً، فإن التطوع المقيد منها أفضل من التطوع المطلق.

Puasa Sunnah atau puasa Tathowu’ terbagi menjadi dua, Tathowu’ Mutlaq dan Tathowu’ Muqoyyad. Dan puasa Tathowu’ Muqoyad lebih ditekankan untuk dikerjakan daripada yang mutlaq, sebagaimana dalam perkara shalat pun seperti itu, shalat sunnah muqoyyad lebih afdhol daripada yang sunnah mutlaqah.

Yang dimaksud dengan puasa sunnah mutlaqah adalah yang tidak terikat dengan waktu tertentu atau keadaan tertentu. Boleh bagi setiap muslim mengerjakan puasa sunnah jenis ini kapanpun asalkan tidak di waktu-waktu yang terlarang untuk mengerjakan puasa di dalamnya, semisal;

1. di waktu hari ied al adha dan ied al fitri.
2. di waktu tasyriq (tiga hari setelah hari ied Al Adha)
3. Hari jum’at (apabila mengkhusukan hari itu saja tanpa mengikutinya hari sebelum dan setelahnya)

Adapun sebaik-baik puasa sunnah Mutlaq adalah sehari berpuasa dan sehari berbuka, atau yang dikenal dengan puasa Dawud.

(( أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوْمًا، وَيُفْطِرُ يَوْمًا. ))

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash, semoga Allah meridhlai keduanya, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, "Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Dawud ‘Alaihis Salaam, dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud, Beliau dahulu tidur setengah malam, dan bangun di sepertiganya, dan tidur seperenamnya, berpuasa sehari, berbuka sehari." (HR. Bukhari 1131, Muslim 1159)

Adapun puasa sunnah muqoyyad adalah puasa sunnah yang terkait dengan waktu atau keadaan. diantaranya:

1. Puasa setiap hari Senin dan Kamis

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ قَالَ: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, "Itulah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus menjadi rasul." (HR. Muslim 1162)

di lafadz milik Abu Dawud terdapat tambahan, "dan puasa hari Kamis", beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Aku dilahirkan hari itu dan Al Quran diturunkan padaku hari itu juga". (HR, Abu Dawud 2426)

2. Puasa tiga kali di setiap bulannya, atau yang dikenal dengan puasa Ayyamul Bid. (tanggal 13, 14, 15 dengan penanggalan Hijriyah)

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ: (( صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاَةِ الضُّحَى، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ. ))

"Kekasihku (Rasulullah) menasihatkanku dengan tiga perkara yang aku tidak akan meninggalkanya sampai aku wafat; puasa tiga hari di setiap bulannya, shalat Dhuha, dan Shalat Witir sebelum tidur". (HR. Bukhari 1178)

3. Puasa ‘Asyura, yaitu berpuasa di hari ke-10 dari bulan Muharram. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah Radhiyallahu 'anhaa, bahwasanya sebelum diwajibkan puasa Ramadhan ummat terdahulu biasa mengerjakan puasa ‘Aasyura, itu adalah hari dimana Ka’bah diberi penutup, setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ. ))

"Barangsiapa yang mengerjakanya maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang tidak mau mengerjakanya, maka silahkan tinggalkan". (HR. Bukhari 1592)

Adapun keutamaan daripada puasa ‘Aasyuura ini adalah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil selama setahun sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Qotadah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

4. Puasa 6 hari di bulan Syawal. sebagaimana yang dijelaskan pada hadits

(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. ))

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh". (HR. Muslim 1164)

5. Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban dan bulan Muharam.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Abu Abdirrahman Musthofa Ahmada, Lc., MA.

Artikel: www.ibnuumar.or.id

Posting Komentar

0 Komentar